Outfit OutfitPanduan ringkas untuk pembaca yang ingin paham tanpa bertele-tele.
general

Outfit dan Cerita di Balik Pilihan Baju Sehari-hari

Dari baju bekas hingga outfit kantor, pilihan pakaian kita selalu punya cerita. Zulkifli Liem merangkum fenomena outfit di Indonesia.

8 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Zulkifli Liem
Outfit dan Cerita di Balik Pilihan Baju Sehari-hari

Setiap pagi, sebelum keluar rumah, saya selalu meluangkan beberapa menit di depan lemari. Bukan untuk berdandan lama, tapi untuk memilih outfit yang tepat. Rasanya seperti menyusun cerita untuk hari itu. Di Pulaumarore, kota kecil tempat saya tinggal, kebiasaan ini sudah jadi rutinitas banyak orang. Saya sering lihat tetangga atau teman yang sengaja pilih kemeja lengan panjang meski cuaca panas, cuma karna hari itu mereka ada rapat dengan bos. Atau anak-anak muda yang pakai hoodie oversize meski gerah, karena itu seragam tidak resmi komunitas skateboard mereka. Pakaian bukan lagi sekadar penutup tubuh; ia jadi bahasa.

Dulu waktu saya masih kuliah, outfit yang saya pakai hampir selalu sama: kaos oblong dan celana jeans. Simple, nggak ribet. Tapi akhir-akhir ini, saya perhatikan perubahan. Banyak teman yang mulai bereksperimen dengan gaya vintage, beli baju bekas di thrift shop, atau justru memilih yang lebih formal untuk kerja. Menurut pengamatan saya, fenomena ini muncul karena dua hal. Pertama, pengaruh media sosial. Di Instagram atau TikTok, kita lihat gaya orang lain, lalu kita tiru atau adaptasi. Kedua, kesadaran bahwa outfit bisa menunjukkan siapa kita tanpa perlu bicara.

Di Indonesia, tren ini kental banget. Misalnya, di kota-kota besar seperti Jakarta atau Bandung, thrifting sudah jadi gaya hidup. Baju bekas dari Amerika atau Jepang justru dianggap lebih punya karakter. Sya sendiri beberapa kali beli kemeja flannel di lapak dekat pasar. Harganya murah, tapi motifnya unik dan nggak pasaran. Banyak anak muda juga mulai meninggalkan fast fashion dan beralih ke pakaian yang lebih tahan lama. Saya lihat itu sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya konsumtif, sekaligus cara menjaga lingkungan. Di komunitas hiking di Pulaumarore, misalnya, outfit outdoor seperti jaket merek lokal dan sepatu trail jadi pilihan utama, bukan karena mahal, tapi karena fungsional dan cocok dengan aktivitas.

Yang menarik, outfit juga jadi penanda perubahan kebiasaan. Dulu, orang pakai baju bagus hanya ke acara resmi. Sekarang, banyak yang pakai outfit rapi ke kafe atau mal. Saya rasa ini karena orang ingin selalu tampil instagramable. Bukan berarti jadi sombong, tapi lebih ke bentuk apresiasi pada diri sendiri. Saat kita merasa nyaman dengan pakaian yang kita kenakan, rasa percaya diri ikut naik. Sya juga sering dapat komentar dari teman soal outfit saya, dan obrolan itu sering kali berlanjut ke topik lain: ke mana saya beli bajunya, bagaimana cara merawatnya, atau apa cerita di baliknya.

Saya pikir, memilih outfit adalah proses yang personal. Tidak ada aturan baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan dan suasana hati. Ketika kita berhenti membandingkan gaya dengan orang lain, justru kita lebih leluasa mengeksplorasi. Di Pulaumarore, tren outfit memang tidak secepat di ibu kota, tapi perlahan orang mulai berani tampil beda. Entah itu mix and match antara batik dan jaket denim, atau pakai celana wide leg yang sempat populer di tahun 2000-an. Semuanya kembali lagi pada cerita yang ingin kita sampaikan.

Satu hal yang saya sadari: outfit bukanlah sebuah target, melainkan perjalanan. Kita bisa berganti gaya kapan saja tanpa harus dihakimi. Selama kita nyaman, itulah outfit yang sempurna. Jadi, besok pagi, saat kamu berdiri di depan lemari, lihatlah baju2mu. Mungkin ada satu yang punya kenangan tersendiri. Atau yang terakhir kamu beli karena terinspirasi dari video seseorang. Pakailah, dan biarkan cerita itu mengalir.

Ilustrasi orang memilih pakaian di lemari

Tag: #outfit #gaya-hidup #tren-indonesia #observasi